News

Check out market updates

Riba di Sekitar Kita

Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasul bersabda, “Akan datang kepadamu  suatu masa dimana saat itu mereka akan memakan riba” Abu Hurairah berkata, maka timbullah pertanyaan kepada beliau, “Apakah semua manusia melakukannya?” Beliau menjawab, “Yang tidak makan di antara mereka akan mendapat debunya”

 

Kalau kita cermati sekarang ini riba memang sudah merebak. Jika ditarik lebih jauh penyebab banyak manusia terjatuh pada riba adalah karena memang mereka diarahkan untuk seperti itu. Salah satunya adalah lewat kemudahan berhutang.

 

Misal dalam suatu keluarga ada kelebihan uang belanja bulanan sekian ratus ribu. Banyak yang kemudian tergiur untuk mencicil motor. Apalagi kita tahu sendiri saat ini kemudahan mengkredit motor dibuka sangat luas tanpa perlu uang muka yang besar.

 

Lembaga keuangan pun setali tiga uang. Dari depan Pasar Boyolali sampai Pasar Sunggingan saja lebih kurang ada 27 lembaga keuangan yang hidup. Itu artinya nasabah yang ada sangat besar. Belum lagi mereka yang bekerja di situ. Sangat banyak yang terlibat di riba ini.

 

Nah

 

Riba adalah tambahan, beranak, atau tumbuh. Yusuf Qardhawi mendefinisikan sebagai pinjaman/hutang yang mensyaratkan di dalamnya ada tambahan.

 

Riba sendiri terbagi menjadi 2.

  1. Riba dalam Jual Beli (Bai’)

Riba jual beli masih terbagi menjadi dua lagi yakni

  1. Riba Fadhl

Riba ini terjadi karena pertukaran barang sejenis dengan ukuran berbeda. Contoh nyata dalam hal ini adalah pertukaran beras kualitas rendah dengan beras bagus.

 

Jika pertukarannya langsung, misal beras kualitas rendah 10 kilo ditukar 6 kilo beras bagus itu termasuk riba. Cara untuk lepas dari riba adalah dengan menjual beras kualitas rendah terlebih dahulu. Setelah mendapat uang baru dibelanjakan untuk membeli beras kualitas bagus.

 

Ini sekilas tidak ada bedanya dengan pertukaran langsung, tapi beda akad maka beda hukum. Karena dalam islam akad itu sangat penting.

 

Contoh lain adalah tukar uang baru. Untuk mendapat uang baru senilai Rp.1.000.000 kita harus membayar di atas itu. Nah, uang kelebihan itu adalah riba.

 

  1. Riba dalam Hutang (Dain)

Riba dain juga dibagi menjadi dua;

  1. Riba Nasi’ah

Riba ini terjadi jika ada penambahan dari jatuhnya tempo. Misal si A meminjam uang Rp.100.000 kepada si B dengan waktu pelunasan satu bulan. Jika di bulan yang telah ditentukan ternyata si A belum bisa melunasi maka dalam waktu keterlambatannya akan dikenakan denda Rp.10.000.

 

  1. Riba Qordh

Riba ini terjadi pada pinjaman yang bunganya sudah dipersyaratkan di awal. Ini banyak terjadi di bank konvensional.

 

Riba adalah salah satu dosa yang membinasakan. Dalam riwayat Hakim bahkan disebutkan bahwa riba ada 73 pintu dan dosa paling ringan adalah seperti berzina dengan ibunya sendiri.

 

Ancaman lain juga ada di hadits riwayat Ahmad, “Dari Abdullah bin Hanzhalah ghasilul malaikah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Satu dirham riba yang dimakan oleh seseorang,padahal dia mengetahui kalau itu adalah riba maka  jauh lebih dahsyah dari pada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali (HR. Ahmad)

 

Nah coba hitung sendiri. Misal ada orang kredit motor. Harga tunai 17 juta. Kalau kredit total yang harus dibayar di kisaran 22 juta. Itu artinya ada 5 juta yang termasuk riba. Jika 1 dirham sama dengan Rp.65.000 maka sudah berapa banyak orang itu dinilai berzina?

 

Ini yang menjadi tugas besar dakwah. Selama ini masjid dan pengajian di masyarakat didominasi ibadah maghdhoh seperti shalat dan zakat. Untuk masalah ini masih jarang yang menyampaikan. Inilah yang membuat masyarakat kita tidak tahu.

 

Maka kita akan melihat orang dengan bangga kerja di perbankan, pegadaian, kredit motor, mobil, rumah. Bahkan banyak yang mengincar lembaga pembiayaan sebagai tempat bekerjanya.

 

Mungkin inilah zaman yang diisyaratkan Rasul dalam sabdanya, “Akan datang suatu masa orang-orang tidak peduli dari mana harta yang dihasilkan. Apakah dari jalan yang halal atau jalan yang haram/riba” (HR. Bukhari)

 

Sebagai penutup kita perlu mengingat bahwa Rasul melaknat orang yang memakan riba, yang memberi, penulisnya, dan dua orang saksinya. Beliau bersabda “Hum sawaaun” Mereka itu sama. (HR Bukhari Muslim)

 

Semoga Allah menjaga kita dari praktik riba yang semakin menggila.