News

Check out market updates

BOLEHKAH MENGAMBIL KEUNTUNGAN LEBIH DARI 100%

Mencari keuntungan dalam berdagang itu diperbolehkan dan dibenarkan oleh syariat. Bahkan itu merupakan salah satu tujuan dalamberdagang. Jika seseorang berdagang namun ia sengaja merugi, maka ia telah keluar dari tujuan perdagangan. Demikian dinyatakan oleh Prof. DR. Wahbah Az-Zuhailiydalam Tafsir Al-Munir, 5/31.

 

Pada dasarnya Islam tidak memiliki batasan atau standar baku tentang pengambilan laba atau keuntungan. Pedagang bebas menentukan laba yang diinginkan dari suatu barang. Hanya saja, keuntungan yang berkah adalah keuntungan yang tidak melebihi sepertiga harga modal.

 

Allah berfirman,

 

إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍمِّنكُمْ“

Kecuali dengan jalan perniagaan yang berdasarkan asas saling ridha di antara kamu.” (An-Nisa`: 29)

 

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah: 275)

 

Syaikh Fauzan bin Shalih al-Fauzan juga berpendapat, tidak ada batas keuntungan yang boleh diambil dalam penjualan. Karena Allah ta’ala menghalalkan jual beli tanpa mengkaitkannya dengan batas keuntungan tertentu. Pernyataan dua ulama di atas selaras dengan hadits shahih berikut ini.

 

Sahabat ’Urwah al-Bariqiy menyatakan bahwa Nabi saw pernah memintanya untuk membeli seekor kambing. Beliau memberinya uang 1 dinar untuk itu. Lantas ’Urwah membeli dua ekor kambing dengan uang 1 dinar itu dan menjual salah satunya seharga 1 dinar. Maka ia datang kepada Rasulullah dengan seekor kambing dan uang 1 dinar. Nabi pun mendoakan keberkahan baginya dalam transaksinya. (Hadits ini diriwayatkan oleh ImamAhmad, Imam al-Bukhari, Imam Abu Dawud, dan Imam at-Tirmidziy).

 

Hadits di atas jelas-jelas memberitahukan bahwa ’Urwah mengambil keuntungan 100 %; ia membeli seekor kambing seharga ½ dinar dan menjualnya seharga 1 dinar. Dan hal itu tdk diingkari oleh Rasulullah. Sekiranya hal itu tidak diperbolehkan, niscaya Rasulullah saw mengingkarinya.

 

Juga selaras dengan riwayat yang menceritakan perdagangan yang pernah dilakukan oleh Zubair bin ’Awwam,  salah seorang sahabat yang dijamin masuk jannah. Zubair pernah membeli sebidang tanah yang cukup luas di wilayah Madinah seharga 170.000, kemudian ia menjualnya dengan harga 1.600.000. Maknanya, Zubair mengambil keuntungan lebih dari 9 kali lipat dari harga belinya.

 

Kebebasan yang dimiliki oleh penjual barang ini mestinya diikuti dengan etika, adab, dan akhlak islami.  Pedagang perlu memperhatikan kondisi perekonomian di daerah tempat dia berdagang. Jangan sampai seorang pedagang mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya saat orang-orang membutuhkan barang. Jangan sampai terjadi kemudharatan dialami oleh lingkungan sekitarnya gara-gara ia menjual barang terlalu mahal sehingga mereka tidak mampu membelinya. Apalagi jika ia adalah pemasok utama atau bahkan pemasok satu-satunya. Para ulama juga mensyaratkan, dalam mengambil keuntungan itu seseorang tidak boleh melakukan praktik penipuan, kecurangan, dan kezhaliman.

 

Wallahu a’lam bish showab


 


didim escort didim escort didim escort kemer escort kemer escort kemer escort kuşadası escort kuşadası escort kuşadası escort şile escort şile escort şile escort